Mengembangkan Teknologi Budidaya dan Pengolahan Umbi Langka di Desa Cimara, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan

Penulis: Khairul Hadi B dan Rijanti Rahaju Maulani

Dalam rangka memberikan suatu bentuk pengabdian kepada masyarakat, pada tanggal 30-31 Juli 2019, sebagian anggota KK Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (ATB) melalui Program Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Inovasi (P3MI) ITB 2019 melakukan kegiatan pelatihan yang berjudul “Pengembangan Teknologi Budidaya dan Pengolahan Umbi Eksotis Sebagai Pangan Alternatif” di Desa Cimara, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat kepada Kelompok Tani Mulia Subur. Kegiatan ini diketuai oleh Dr. Rijanti Rahaju Maulani. Kegiatan pelatihan diselenggarakan di kantor desa dengan penyambutan oleh pejabat kepala desa setempat (Gambar 1.). Dalam sambutannya Pejabat Kepala Desa Cimara Usman menyampaikan bahwa semoga program yang dilakukan oleh KK ATB SITH ITB memberikan manfaat untuk meningkatkan keragaman produk-produk yang menjadi suatu ciri khas Desa Cimara, Kabupaten Kuningan umumnya yang kemudian dapat meningkatkan pendapatan petani setempat.

 

Gambar 1. Penyambutan oleh pejabat Kepala Desa Cimara beserta para peserta dari Kelompok Tani Mulia Subur

Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 30 orang peserta baik perempuan dan laki-laki yang bears dari Kelompok Tani Mulia Subur. Dalam kegiatan pada hari pertama (30 Juli 2019) telah dipaparkan beberapa informasi yaitu; Pengenalan Ragam Umbi-Umbian, yang disampaikan oleh Dr. Rika Alfianny, membahas tentang berbagai aspek umbi-umbian dari asal, tempat tumbuh, serta ragam manfaat yang bisa diperoleh dari beberapa jenis umbi yaitu singkong, ubi jalar, talas, kimpul, bengkuang, ganyong, garut, ubi buah, ubi suweg, iles-iles, gadung, ubi manis, dan ubi kentang hitam (Gambar 2.).

  

Gambar 2. Pemaparan materi oleh Dr. Rika Alfianny, Dr. Aos, dan Dr. Rijanti Rahaju Maulani

Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi tentang Teknik Budidaya Umbi-umbian oleh Dr. Aos. Pembahasan lebih diutamakan untuk umbi langka yaitu talas, ganyong, garut, gadung, dan suweg. Dr. Aos menyampaikan bahwa penanaman umbi yang baik harus memperhatikan lima aspek umum yaitu tempat tumbuh, bahan tanam yang dipilih, cara penanaman, perawatan, serta pemanenannya, dimana untuk masing-masing jenis umbi memiliki kriteria tersendiri.

Materi terakhir disampaikan oleh Dr. Rijanti Rahaju Maulani yang membahas tentang Teknologi Penanganan dan Pengolahan Umbi Langka untuk jenis talas, gadung, garut, dan ganyong.  Berbagai macam produk yang dapat dihasilkan seperti talas kukus, keripik talas, tepung, dan dodol talas. Sedangkan dalam mengolah gadung diperlukan perhatian khusus dalam menghilangkan racunnya seperti dioskorin, dihidrosklorin, dan sianida yaitu menggunakan abu pembakaran kayu dan perendaman serta pencucian beberapa hari dengan penambahan garam untuk menetralisir racun. Dari gadung dapat diperoleh tepung dan keripik gadung. Garut atau sagu juga dapat menghasilkan pati yang cocok untuk makanan bayi dan emping garut, sedangkan ganyong dapat menghasilkan pati yang cocok untuk dijadikan produk olahan seperti mie ganyong (minyong).

 

Gambar 3. Peserta yang menyimak pemaparan dari masing-masing pemateri

Kegiatan yang dilakukan pada hari kedua (31 Juli 2019) adalah praktek lapangan, para peserta pelatihan dibimbing langsung bagaimana melakukan penanaman bibit ganyong, sagu, gadung, suweg, dan talas secara tepat. Sebelum memulai, Dr. Aos kembali memberikan pengarahan (Gambar 4.) terkait dengan jarak tanam, ukuran lubang tanam, dan posisi penanaman dari masing-masing umbi. Kemudian para peserta diminta langsung melakukan penanaman pada lahan demplot yang sudah disediakan.

  

  

Gambar 4. Praktek penanaman umbi langka

Praktek lapangan selesai menjelang siang, kemudian diakhiri dengan penutupan serta makan siang. Penutupan yang diwakili oleh Dr. Rijanti Rahaju Maulani, dimana pada kesempatan tersebut disampaikan bahwa harapan ke depannya para peserta dapat mempraktikkan ilmu yang telah diberikan sehingga dapat mewujudkan suatu keberlanjutan, dimana apabila di tahap sekarang telah dilakukan praktek penanaman, maka pada kesempatan berikutnya diharapkan dengan hasil tanam yang telah dihasilkan oleh petani, maka teknik-teknik pengolahan umbi-umbian tersebut dapat diterapkan hingga memberikan produk  yang bersih yang siap dikemas dan dipasarkan.

Berita Terkait