Dari Akademisi hingga Praktisi: Web Seminar KK-ATB Membahas Valorisasi dan Strategi Bisnis Inovatif Minyak Atsiri

Kelompok Keilmuan Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (KK-ATB) mengadakan web seminar dengan judul Valorisasi dan Strategi Bisnis Inovatif Minyak Atsiri (link: webinar-kk-atb). Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 25 Juli 2020 dan dihadiri oleh kurang lebih 200 peserta dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Peserta pada kegiatan ini didominasi oleh mahasiswa dari seluruh Indonesia, mulai dari pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan. Selain mahasiswa, kegiatan ini juga diikuti oleh berbagai praktisi, pebisnis, dan juga akademisi.

Kegiatan web seminar ini diadakan dengan tujuan untuk memfasilitasi adanya transfer ilmu minyak atsiri dari kalangan industri, akademisi, peneliti, dan praktisi minyak atsiri. Untuk memenuhi tujuan tersebut, kegiatan ini mengundang berbagai pembicara, diantaranya Bapak Fery sebagai Owner CV. Pavettia, Bapak Ir. Acep Sutiana sebagai Direktur Operasional PT Sinkona Indonesia Lestari, Bapak Dr. M. Yusuf Abduh sebagai dosen dan Ketua Program Studi Rekayasa Hayati ITB, dan Sophie Anggita Raharjani S.T. sebagai Direktur Operasional PT Bio Proshafa Karya. Selain itu, pada kegiatan ini juga terdapat presentasi dari pemenang kompetisi poster minyak atsiri untuk menambah aspek penelitian dari rangkaian materi yang disampaikan.

Kegiatan ini dibuka dengan perkenalan diri dari peserta dan sambutan dari Ketua KK-ATB, Dr. Agus Dana Permana. Peserta cukup antusias untuk memperkenalkan diri dan menceritakan latar belakangnya untuk mengikuti acara ini. Salah seorang peserta dari kalangan praktisi menyebutkan bahwa ia sangat tertarik dengan potensi hasil hutan untuk dimanfaatkan menjadi mintak atsiri. Salah satu peserta dari kalangan mahasiswa menyebutkan bahwa dirinya sangat tertarik dengan minyak atsiri dari akar wangi yang menjadi komoditas utama di daerah tempat tinggalnya. Perkenalan dari peserta ini menambah suasana diskusi yang hangat saat pelaksanaan seminar secara daring.

Kegiatan berlanjut ke pemaparan materi dari Bapak Fery dan Bapak Ir. Acep Sutiana. Materi yang disampaikan oleh Bapak Fery berfokus pada kendala dan strategi produksi minyak atsiri di industri skala medium. Pak Fery menyebutkan bahwa kendala utama dalam produksi minyak atsiri adalah pengadaan bahan baku. Menurut beliau, strategi yang dapat dilakukan adalah penyulingan yang terintegrasi dengan usaha agribisnis sehingga pasokan bahan dapat diperoleh dari kebun yang dikelola sendiri. Keuntungan dari sistem ini adalah kualitas bahan baku yang lebih terjamin dan profit yang lebih besar. Materi yang disampaikan oleh Bapak Ir. Acep Sutiana berfokus pada quality control dan sustainability industri minyak atsiri. Untuk menjaga kualitas minyak atsiri terdapat 3 aspek yang harus konsisten, yaitu organoleptik, sifat kimiawi, dan sifat fisik. Untuk menjaga sustainabilitas industri minyak atsiri, supply chain menjadi kunci dan kekuatan utama dalam bisnis minyak atsiri.

Setelah sesi tanya jawab bersama Bapak Fery dan Bapak Ir. Acep Sutiana, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi valorisasi tanaman penghasil minyak atsiri dari Dr. M. Yusuf Abduh. Beliau menyebutkan bahwa minyak atsiri sangat berpotensi untuk dikembangkan karena memiliki market size yang besar. Minyak atsiri memiliki berbagai komponen bioaktif yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam produk. Potensinya yang besar mendorong banyak penelitian yang mengkaji peningkatan produktivitas maupun kualitas minyak atsiri, salah satu caranya adalah dengan biorefinery. Biorefinery adalah konsep untuk meningkatkan nilai tambah dengan mengoptimalkan sumber daya alam, meminimalisir limbah yang dihasilkan, memaksimalkan manfaat dan keuntungan, serta pembangunan berkelanjutan.

Presentasi dari Bapak Ir. Acep Sutiana

Pembicara selanjutnya adalah Rian Fiqraini, mahasiswa Rekayasa Hayati ITB yang menjadi juara 1 dalam kompetisi poster valorisasi minyak atsiri. Ai, begitu sapaan akrabnya, menyampaikan mengenai pemanfaatan jamur Aspergillus awamori untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas minyak atsiri spearmint. Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, fermentasi daun spearmint selama 9 hari dapat meningkatkan perolehan minyak spearmint hingga 450%. Peningkatan ini berkorelasi positif dengan pengurangan kadar lignoselulosa daun spearmint yang diketahui dapat menghambat proses ekstraksi minyak atsiri dari sel tumbuhan.

Pembicara terakhir pada kegiatan ini adalah Ibu Sophie Anggita dari PT Bio Proshafa Karya yang memberikan demonstrasi pembuatan daily product dari minyak atsiri. Ibu Sophie memberikan demonstrasi pembuatan toilet cleaner dan body mist. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan produk ini cukup sederhana dan pembuatan produknya sangat mudah untuk dilakukan. Dengan adanya demonstrasi ini, Ibu Sophie memberikan masukan baru bagi para peserta untuk berinovasi menghasilkan berbagai produk dari minyak atsiri. Setelah pemaparan dari Ibu Sophie dan sesi tanya jawab, kegiatan web seminar ini ditutup dengan foto bersama.

Foto bersama

Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi para peserta, baik dalam bentuk ilmu maupun perluasan jaringan antar peserta.

Berita Terkait