Pengantar

Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk (KK ATB) didirikan untuk memajukan pengembangan dibidang pertanian dan bioindustri secara berkelanjutan. Aspek yang dikaji dimulai dari proses hulu hingga hilir, yang mencakup peningkatan produktivitas biomassa tanaman secara terkendali, kemudian penyimpanan dan pemrosesan pasca panen, dan teknologi konversi biomassa secara terintegrasi antara satu proses dengan yang lainnya serta berkelanjutan menjadi beberapa bioproduk yang dapat diaplikasikan di bidang pangan, energi, kesehatan, dan lingkungan, sebagaimana terlihat pada ilustrasi berikut. 

 

Gambar 1. Ruang Lingkup Pengembangan dari Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk

Beberapa kegiatan yang dilakukan diantaranya adalah peningkatan kapasitas anggota tim dalam mengkaji beberapa komoditas pertanian, dan pengolahan hasil pertanian yang berfokus pada efisiensi penggunaan lahan dan radiasi matahari, dan optimasi penggunaan media dan pestisida alami. Pengembangan laboratorium lapangan, dan zona wisata edukasi melalui kerja sama baik itu dengan pemerintah ataupun pihak lainnya sebagai sarana pendidikan yang dapat memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar. Penelitian dan pengembangan bioproduk dan teknologi untuk proses hilirisasi hasil-hasil pertanian berupa pangan dan pakan, energi terbarukan dan zat aktif seperti mocaf, pakan, biodiesel, minyak atsiri, hidrolisat, propolis, enzim, serta pupuk organik padat dan cair.

KK ATB telah merilis jurnal nasional dan internasional dengan jumlah rata-rata 10 artikel per tahun. Sejak dari tahun 2012 sampai tahun 2020, KK ATB sudah menghasilkan lebih dari 80 publikasi internasional dan nasional, 9 dokumen paten, 4 buku dan 2 teknologi tepat guna. KK ATB juga sudah menjalin kerjasama dengan 7 institusi pendidikan dalam negeri dan luar negeri serta 18 perusahaan yang berdampak positif pada luasnya cakupan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan anggota KK ATB. Beberapa institusi nasional yang mengadakan kerjasama dengan KK ATB diantaranya adalah Kementerian Pertanian, Lembaga Penelitian Sayuran, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan beberapa pemerintah daerah dalam mengembangkan bioproduk dengan menggunakan konsep biorefinery yang meliputi biokonversi agen hayati seperti mikroorganisme, lebah Trigona, lalat tentara hitam, dan ternak yang terintegrasi dengan sistem pertanian dan peternakan.

Kerjasama tersebut telah diimplementasikan pada beberapa daerah seperti Bandung Barat, Sumedang, Lubuk Linggau, Tapanuli, dan Kalimantan Tengah, dalam hal pembuatan metabolit primer dan sekunder (pangan, pakan, dan minyak atsiri), biokonversi biomassa, energi terbarukan, dan bahan-bahan lainnya, serta uji coba produksi nutraceutical untuk menunjukkan komitmen yang kuat dalam mendukung ITB menjadi entrepreneurship university.